Sejarah Desa

  1. Sejarah Desa

Desa Tadui merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Bambu pada tahun 1993, yang selama 3 tahun menjadi desa persiapan, dan tepatnya di tahun 1996 Desa Tadui resmi menjadi desa defenitif sekaligus melaksanakan pemilihan kepala desa pertama . Pada zaman dahulu ketika orang hendak memasuki wilayah desa ini ada upacara adat yang harus dilakukan sebagai tanda bahwa orang tersebut diterima oleh Kerajaan Mamuju dan masyarakat asli di daerah tersebut. Upacara itu dilakukan dengan cara memberikan tanda pada kening orang yang bersangkutan dengan sirih, pinang, dan kapur sirih. Sirih, pinang, dan kapur sirih ini dalam bahasa Mandar  artinya Tadu. Sehingga Desa ini diberi nama Desa Tadui. Pada mulanya Desa Tadui merupakan desa terpencil yang terdiri atas 3 dusun yaitu Dusun Bambu, Dusun Salutalawar, dan Dusun Manalise dengan jumlah rumah di daerah pesisir dan dataran rendah hanya berjumlah 8 rumah tangga. Dusun Bambu kemudian dimekarkan menjadi 3 dusun yaitu Dusun Bambu, Dusun Tadui, dan Dusun Lalawang. Dusun Salutalawar kemudian dimekarkan menjadi Dusun Salutalwar dan Dusun Pangodoang. Sedangkan Dusun Manalise dimekarkan menjadi 3 dusun yaitu Dusun Manalise, Dusun Tamakula, dan Dusun Lempo.  Arti dari nama dusun – dusun yang dimekarkan ini adalah sebagai berikut :

  • Dusun Lalawang

Wilayah Dusun Lalawang merupakan tempat para prajurit kerajaan Mamuju melawan Belanda pada zaman penjajahan sehingga dusun ini diberi nama Dusun Lalawang.

  • Dusun Salutalawar

Salutalawar terdiri atas dua suku kata yaitu salu dan talawar. Kata Salu merupakan bahasa Mambi yang berarti sungai. Sedangkan kata talawar merupakan bahasa Mamuju yang berarti tiram. Jadi arti kata salutalawar adalah sungai tiram. Gabungan dari dua suku kata ini terjadi karena di wilayah ini terjadi persatuan dari dua suku yaitu Suku Mambi dan Suku Mamuju dalam tali pernikahan sehingga wilayah ini kemudian diberi nama Dusun Salutalawar.

  • Dusun Pangodoang

Pada zaman dahulu di wilayah ini tinggal penduduk asli di daerah dataran rendah dan dataran tinggi. Untuk tiba pada kampung yang berada di gunung masyarakat harus mendaki melewati bukit – bukit sehingga ketika tiba di kampung yang berada di atas gunung tersebut orang merasa seperti terayun yang dalam bahasa Mambi disebut pangodoang. Sehingga wilayah tersebut kemudian diberi nama Dusun Pangodoan.

  • Dusun Manalise

Manalise terdiri dari dua suku kata yaitu kata mana dan lise. Kata mana berarti berwibawa sedangkan kata lise berarti anak kutu. Manalise memilki arti kampung kecil seperti anak kutu tapi berwibawa.

  • Dusun Tamakula

Tamakula terdiri dari dua suku kata yaitu kata tama dan kula. Kata tama berarti masuk dan kata kula berarti panas. Pada masa itu di wilayah ini terdapat sungai air panas sehingga tamakula memiliki arti dan tanda bahwa tempat tersebut merupakan tempat air panas.

  • Dusun Lempo

Wilayah dusun ini merupakan tempat berkumpul penduduk asli untuk melakukan musyawarah pada zaman penjajahan.  Hal yang biasa dilakukan adalah membicarakan hukuman bagi penduduk yang berpihak kepada Belanda. Hukuman bagi penduduk yang berpihak pada Belanda adalah  memenggal kepala penduduk tersebut atau dalam bahasa Mambi disebut lempo sehingga wilayah tersebut kemudian diberi nama Dusun Lempo.  Penduduk Dusun Lempo dulunya merupakan penduduk asli Mambi namun sekarang sebagian besar masyarakat yang tinggal disana adalah penduduk yang berasal dari Bugis karena tanah – tanah milik masyarakat Mambi tersebut  dijual kepada masyarakat suku Bugis.

Penduduk asli Desa Tadui adalah suku Mambi yang memiliki ciri – ciri : berbadan tinggi dan tegap serta tinggal di gunung dan bekerja sebagai petani dengan jenis tanaman padi gunung dan kopi. Sejak desa ini dibentuk dengan kepala desa pertama Bapak Andi Atdjo Piddu, seluruh penduduk di gunung diperintahkan untuk turun dari gunung dan menetap di daerah pesisir dan dataran  rendah Desa Tadui. Tanaman sagu yang ada di daerah dataran rendah desa ini kemudian ditebang dan dijadikan pemukiman bagi masyarakat yang berasal dari gunung. Makanan pokok masyarakat desa Tadui kala itu adalah sagu atau singkong dengan campuran kelapa yang disebut jepa. Makanan ini masih tetap ada hingga saat ini dan digunakan sebagai makanan pengganti nasi jika tidak ada beras.  Setelah penduduk yang tinggal di gunung pindah ke wilayah pesisir dan dataran rendah, pemerintah desa bekerja sama dengan dinas pertanian memberikan bibit jagung dan kelapa hibrida untuk ditanam oleh masyarakat.  Berdasarkan cerita dari Bapak Andi Atdjo, kondisi masyarakat saat itu sangat memprihatinkan. Rumah masyarakat terbuat dari kayu dan berbentuk panggung dengan jumlah anggota keluarga mencapai 14 orang anggota keluarga di dalam satu rumah. Kegiatan masyarakat setiap hari adalah bertani dan berkebun. Namun seiring berjalannya waktu dan perpindahan penduduk dari wilayah gunung ke wilayah dataran rendah serta pesisir membuat masyarakat tidak lagi menanan padi gunung dan kopi dan beralih menanam kakao. Karena menurut masyarakat cara perawatan tanaman kakao lebih mudah dan waktu panennya pun lebih cepat dibandingkan dengan tanaman kopi. Sedangkan budidaya rumput laut mulai dikembangkan pada tahun 1996.